Oleh: jogjakelinci | 2 November 2009

Kudis (Scabies) Kulit Pada Kelinci

scabies2Tungau ini mulai menyerang sekitar mata, pipi, hidung, kepala, jari kaki kemudian meluas ke seluruh permukaan tubuh. Penyebabnya Sarcoptes scabiei dan Notoedres cati juga kutu Haemodipsus ventricosus (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988; MANURUNG et al., 1986; ISKANDAR et al., 1989).

Pada infestasi S.scabiei dan N. cati memperlihatkan gejala: kelinci menggaruk-garuk terus sehingga bulu muka, kepala, pangkal telinga, sekeliling mata dan kaki rontok. Pada infestasi berat, kulit di sekeliling telinga dan hidung dapat berubah bentuk. Tungau ini cepat menyebar ke seluruh koloni kelinci. S. scabiei dapat menginfestasi ke manusia karena bersifat zoonosis, jika menyerang sudut mulut kelinci maka kelinci sulit makan sehingga menimbulkan kematian. Penyakit ini menyerang kelinci di Lombok

(ANONIMOUS, 1993). Sedangkan ISKANDAR et al. (1989) melaporkan skabies di Sumedang (Jawa Barat).

Diagnosis dan pemeriksaan laboratorik Dasar diagnosis kudis adalah gejala klinis seperti gatal-gatal seperti yang diuraikan di atas. Cara diagnosa kudis pada gambaran gejala klinik dalam prakteknya sulit ditetapkan karena berbagai penyakit kulit lainnya memberikan gambaran klinis yang mirip dengan kudis (SUNGKAR, 1991).

Diagnosis infestasi kutu dibuat dengan identifikasi kutu pada kelinci. Tungau dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan mikroskopis dengan kerokan kulit kemudian diletakkan di gelas obyek dan dijernihkan dengan larutan KOH 5−10%, kemudian ditutup dengan kaca tutup, selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop (ISKANDAR, 1982; ISKANDAR et al., 1984; SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).
scabies and eggs
Membuat tes tinta terowongan dengan cara menggosok papula yang terdapat pada kulit menggunakan ujung pena yang mengandung tinta. Etelah papula tertutup oleh tinta dan didiamkan selama 20−30 menit, tinta kemudian diusap/diharus dengan kapas yang dibasahi alkohol. Tes ini dinyatakan positif bila tinta masuk ke dalam terowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis-garis zig-zag (HOEDOJO, 1989; ISKANDAR, 2000).

Pengobatan dan pengendalian kudis Peninggalan sejarah menunjukkan bahwa kudis dan cara pengobatannya telah dikenal sejak kira-kira tiga ribu tahun yang lalu (RONCALL, 1987). Penyakit kudis pada kelinci dapat disembuhkan dengan Neguvon 0,15% dan Asuntol 0,05–0,2% (MANURUNG et al.,1986). Salep Asuntol 0,1% dapat menyembuhkan scabies pada kelinci

(ISKANDAR et al., 1989). Kelinci yang kena infestasi tungau harus diasingkan dan diobati campuran belerang dengan kapur 5 berbanding 3 atau Pirantel pamoat (Canex) dicampur vaselin (SMITH dan MANGKOEWIDJOJO, 1988).

Bisa diobati Ivermectin dengan dosis 0,2 mg/kg berat badan diberikan sub kutan dengan selang waktu 7 hari. Kudis pada liang telinga dibersihkan dengan H2O2 3%, keropeng-keropeng dibuang, tetesi dengan tetes telinga yang dicampur antibiotik dan fungisida(ISKANDAR et al., 1989).

Dalam melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit kudis perlu diperhatikan pola hidup, sanitasi, pemindahan kelinci, karantina, dan pengobatan. Pola dan kebiasaan hidup yang kurang bersih dan kurang benar memungkinkan berlangsungnya siklus hidup tungau (S. scabiei) dengan baik. Sanitasi termasuk kualitas penyediaan air yang kurang dan ternak yang terlalu padat perlu dihindari (SARDJONO et al., 1997).
scabies life cycle
Pemindahan hewan dari satu tempat ke tempat lain perlu penanganan yang serius. Perlu diperhatikan Surat Keputusan Menteri Pertanian no. 422/kpts/LB-720/6/1988 yaitu peraturan karantina tentang penyakit kudis yang menyatakan bahwa penyakit kudis, skabies, mange dan demodekosis termasuk penyakit golongan 2 nomor 51. Hewan yang peka  adalah ruminansia, kuda, babi, dan kelinci dengan masa inkubasi 14 hari, lama hewan di karantina 14–30 hari. Setiap hewan tersangka skabies harus diisolasi dan diobati.

Jika ada hewan terkena skabies, sebelum memulai terapi sebaiknya peternak diberi penjelasan yang lengkap mengenai penyakit dan cara pengobatannya, sehingga dapat meningkatkan keberhasilan terapi. Mengingat masa inkubasi yang lama, maka semua ternak kelinci yang berkontak dengan hewan penderita perlu diobati meskipun tidak ada gejala klinis atau hewan penderita diisolasi.

Hewan penderita yang berada di tengah keluarga sulit untuk diisolasi. Pakaian yang dicurigai harus dicuci dengan air panas atau disetrika, alat rumah tangga dan kandang juga harus dibersihkan, meskipun tungau tidak lama bertahan hidup di luar kulit hewan maupun manusia (HAGEN, 1982; HARTADI, 1988; SUNGKAR, 1991; SOEDARTO, 1994; ISKANDAR, 2000). Penyakit ini sering dikacaukan dengan Ringworms dan Pavus.

@Kelinci Prancak Yogya
Kelinci Hias Yogyakarta

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: